Refleksi Mendalam Pendidikan Karakter: Kisah “Beton 10 Tinggal 9” dan Urgensi Adab tentang Ta’dhim Murid kepada Guru
Jombang, TarnabakuNews.com, 20 April 2026 – Dalam dinamika pendidikan tradisional di perguruan atau pesantren, hubungan antara guru dan murid bukan sekadar transfer ilmu, melainkan ikatan spiritual yang dibangun atas dasar ta’dhim (penghormatan) dan kepatuhan. Sebuah kisah inspiratif yang beredar di kalangan komunitas santri mengisahkan tentang “Beton 10 Tinggal 9”, sebuah perumpamaan mendalam mengenai bagaimana ketulusan dan kepatuhan seorang murid yang sering dianggap “kurang mampu”, justru menjadi kunci pembuka ilmu tingkat tinggi.
Kisah ini bermula dari seorang murid bernama Wulan, yang dikenal malas belajar dan sering usil terhadap teman-temannya. Namun, di balik kekurangannya, Wulan memiliki satu sifat utama: ta’dhim tanpa batas kepada gurunya. Ketika sang guru memerintahkannya membakar 10 biji beton (biji nangka) dan kemudian marah seraya mengusirnya dengan alasan “Beton 10 kok tinggal 9” (Beton sepuluh kari songo), Wulan tidak membantah. Ia menerima keputusan tersebut dengan lapang dada, pergi mengembara sambil terus melafalkan kalimat “Beton 10 kari songo” sebagai bentuk wirid dan doa, tanpa sedikitpun berniat buruk atau menggerutu terhadap gurunya.

Sembilan tahun kemudian, saat perguruannya mengadakan ujian untuk menguasai jurus pamungkas, tidak ada satu pun murid yang lulus. Sang guru pun teringat pada Wulan. Dengan izin guru, Wulan dipanggil pulang dan seketika hadir di hadapan gurunya. Ketika ditanya rahasia kemampuannya, Wulan hanya menjawab sederhana bahwa ia hanya konsisten mengamalkan kalimat “Beton 10 kari songo” yang diucapkan gurunya saat mengusirnya, disertai doa untuk keselamatan gurunya selama mengembara.
Sang guru kemudian menegaskan pesan moral yang terkandung dalam kisah ini, merujuk pada kitab Ta’lim Mutaallim: “Ta’dhimi fil ilmi wa ahlihi” (Hormatilah ilmu dan ahlinya). Guru menjelaskan bahwa siapa pun yang mengajarkan kebaikan adalah guru, dan menghormati mereka termasuk juga menghormati keturunan dan keluarganya. Kunci keberhasilan Wulan bukanlah kecerdasan intelektual semata, melainkan ketulusan hati, kepatuhan tanpa banyak bertanya, dan kemampuan menjaga perasaan guru meski dalam kondisi dihukum atau diusir.
“Pesan ini menjadi refleksi penting di era modern. Seringkali kegagalan penyerapan ilmu bukan karena metode guru yang salah, melainkan kurangnya adab dan ta’dhim dari murid. Ilmu yang berkah hanya akan turun kepada hati yang lembut dan penuh hormat,” ujar narasumber dari pihak perguruan dalam keterangannya.
Melalui kisah ini, masyarakat dan khususnya para penuntut ilmu diingatkan untuk kembali menguatkan adab kepada guru, menjauhi sikap merasa lebih tahu, dan memahami bahwa ridho guru adalah jalan tercepat menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

PSOB TARUNABHAKTI KUNGFU INDONESIA adalah lembaga pendidikan yang berkomitmen melestarikan nilai-nilai tradisi, adab, dan ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal serta ajaran agama yang rahmatan lil alamin.
Penulis: Mbah Udin
Editor: Chalid
Redaksi: TarnabakuNews.com
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap Dengan Sorot mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
Share the post "Refleksi Mendalam Pendidikan Karakter: Kisah “Beton 10 Tinggal 9” dan Urgensi Adab Tentang Ta’dhim Murid Kepada Guru"
