BGN UJI COBA MBG SISTEM PRASMANAN, TARGETKAN HINGGA 5.000 DAPUR PADA AKHIR 2026
JAKARTA, TarnabakuNews.com, 20 Oktober 2026 — Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengembangkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem penyajian prasmanan di sekolah. Model ini diuji coba untuk meningkatkan kualitas makanan yang diterima peserta didik sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Berdasarkan keterangan resmi BGN, sebanyak 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti pelaksanaan MBG dengan metode prasmanan.
Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan perluasan penerapan sistem tersebut hingga 1.000 sampai 5.000 dapur MBG pada akhir 2026, dengan mempertimbangkan hasil uji coba dan evaluasi di lapangan.
“Kalau tidak terjadi masalah yang begitu signifikan, kami rencananya sampai dengan akhir tahun menargetkan paling tidak minimal 1.000 sampai dengan 5.000 dapur sudah bisa melaksanakan MBG dengan cara prasmanan,” ujar Sudaryono, sebagaimana dikutip dalam keterangan yang diberitakan

Makanan Lebih Hangat, Siswa Dapat Belajar Mandiri
Melalui sistem prasmanan, makanan diharapkan dapat disajikan dalam kondisi lebih hangat dan segar. Siswa juga berkesempatan memperoleh tambahan makanan apabila masih membutuhkan dan persediaan masih tersedia.
BGN menilai metode ini berpotensi membantu mengurangi sisa makanan. Selain itu, pelaksanaannya dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk membiasakan diri mengantre, menjaga kebersihan, melayani teman secara bergiliran, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
Namun, sistem prasmanan tidak dapat diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah. Kesiapan dapur SPPG, tenaga pelaksana, peralatan, pendampingan guru, dan karakteristik usia siswa menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Evaluasi Menjadi Dasar Perluasan Program
BGN menegaskan bahwa pengembangan MBG prasmanan dilakukan secara bertahap melalui uji coba dan evaluasi. Pelatihan bagi dapur dan pihak sekolah diperlukan agar pelayanan berjalan efektif serta memenuhi standar keamanan pangan dan mutu layanan.
Dengan demikian, target 5.000 dapur merupakan sasaran pengembangan hingga akhir 2026, bukan jumlah yang seluruhnya telah menerapkan sistem prasmanan saat ini.

Keberhasilan program selanjutnya akan bergantung pada kesiapan pelaksana, pengawasan kualitas makanan, pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik, serta evaluasi terhadap manfaat dan kendala di setiap lokasi.
Sumber: Badan Gizi Nasional (BGN),
Penulis; mR.Chud
Editor: Dewi Condro
Redaksi: TarnabakuNews.com
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap Dengan Sorot mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
