
Jakarta – tarnabakunews.com
Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), dunia pesantren dinilai perlu melakukan transformasi serius agar tidak terus berada di pinggiran struktur strategis negara. Hal tersebut disampaikan KH Imam Jazuli Lc., MA dalam refleksi kritisnya pada Kamis (12/2/2026) di Jakarta, Beliau menyampaikan mengenai arah pendidikan pesantren dan peran santri di ruang-ruang publik yang menentukan kebijakan bangsa.
Menurut KH Imam Jazuli, NU saat ini berada dalam realitas sosiologis yang paradoks. Di satu sisi, NU memiliki basis massa terbesar di Indonesia dengan ribuan pesantren sebagai tulang punggung organisasi. Namun di sisi lain, kontribusi santri dalam struktur formal negara seperti birokrasi, eksekutif, yudikatif, serta sektor profesional masih belum optimal.
Beliau mengingatkan, tanpa keberanian melakukan dekonstruksi dan reorientasi kurikulum, pesantren berisiko hanya melahirkan surplus tenaga agamawan yang kesulitan beradaptasi dengan kompleksitas zaman modern.
Salah satu persoalan mendasar, lanjutnya, adalah doktrin tradisional yang memaknai keberhasilan santri secara sempit, yakni hanya jika menjadi kiai atau ustadz. Tafaqquh fiddin sering dipahami sebatas penguasaan kitab kuning, sehingga menutup peluang santri untuk berkiprah lebih luas di berbagai sektor strategis.
Kondisi tersebut berdampak struktural, di mana banyak posisi teknis penting dalam pemerintahan dan lembaga negara tidak terisi oleh kalangan santri karena keterbatasan kualifikasi profesional dan pendidikan formal. Akibatnya, kebijakan strategis kerap dirumuskan oleh pihak yang tidak memiliki latar nilai pesantren.
KH Imam Jazuli menegaskan bahwa khidmah santri harus dimaknai secara lebih luas. Santri ideal bukan hanya mereka yang mendalami ilmu agama hingga jenjang tertinggi, tetapi juga mereka yang menjadi teknokrat, birokrat, dokter, hakim, diplomat, aparat negara, hingga pemimpin korporasi global, tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai pesantren.
Dalam konteks itu, pesantren diminta tidak lagi memandang Kurikulum Nasional sebagai beban tambahan. Kurikulum tersebut justru harus dijadikan instrumen strategis agar santri mampu bersaing masuk Perguruan Tinggi Negeri favorit maupun universitas kelas dunia. Penguasaan sains, matematika, humaniora, dan bahasa asing dinilai mutlak diperlukan.
Beliau juga mendorong pesantren untuk mengembangkan program pendukung seperti bimbingan belajar internal yang fokus pada persiapan UTBK dan beasiswa internasional. Dengan demikian, distribusi santri ke kampus-kampus unggulan dalam dan luar negeri dapat terwujud.
Namun demikian, transformasi tersebut dinilai tidak akan berjalan tanpa perbaikan infrastruktur dan kualitas pendidik. Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak pesantren yang kekurangan laboratorium, perpustakaan, serta akses teknologi informasi. Selain itu, praktik penugasan guru mata pelajaran umum tanpa latar belakang keilmuan yang linier dinilai menghambat kualitas transfer ilmu.
Karena itu, NU secara organisatoris didorong untuk mengambil peran strategis. Melalui perangkat organisasi seperti Pergunu dan LP Ma’arif, NU diminta aktif mendorong peningkatan kapasitas pendidik pesantren melalui pelatihan profesional dan workshop berkelanjutan, serta menjadikan linieritas tenaga pendidik sebagai standar manajemen pesantren modern.
KH Imam Jazuli menegaskan, NU tidak boleh berhenti hanya sebagai benteng moral, tetapi harus menjadi motor transformasi pesantren agar siap melahirkan pemimpin bangsa di berbagai lini. Menurutnya, transformasi pendidikan pesantren harus menjadi program unggulan siapapun nahkoda PBNU ke depan. Pilihannya hanya dua, melakukan reorientasi sekarang atau selamanya hanya menjadi penonton di pinggiran kekuasaan.
KH Imam Jazuli Lc., MA dikenal sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Universitas Al-Azhar Mesir, serta pernah menempuh studi di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya. Beliau juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon dan pernah menjabat sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2015.
Kabiro Jombang: Mif
Editor : Riyadh Hasan Mahrez
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
