
Tanjung pinang – tarnabakunews.com
Dalam kehidupan orang Melayu, gendang bukan sekadar bunyi, melainkan bahasa adat yang hidup. Sejak dulu, gendang telah mengiringi denyut nadi kehidupan masyarakat Melayu dari lahir, Dewasa, hingga ke pernikahan dan adat istiadat.
Gendang silat Melayu dipercaya telah ada sejak silat itu berkembang di tanah Melayu. Silat bukan hanya ilmu mempertahankan diri, tetapi juga ilmu adab, budi, dan marwah. Menggunakan iringan silat pun tidak sembarangan, Karena gendang menjadi penentu irama langkah, nafas, dan gerak pesilat.

Pade masa lampau, setiap kampung memiliki gendangnya sendiri, disimpan di balai adat, surau, atau rumah tokoh masyarakat. Gendang, Gendang tersebut hanya dipukul pada waktu – waktu tertentu di antaranya:
- Menyambut pengantin.
- Membuka gelanggang silat.
- Menyambut tamu kehormatan.
- Dalam upacara adat besar lainnya.
Dalam kenduri nikah, gendang silat dipukul sebagai tanda kegembiraan dan doa. Bunyi gendang mengabarkan kepada warga sekampung bahwa telah berlangsung peristiwa besar penyatuan dua insan dalam ikatan adat dan agama. Silat yang dipersembahkan bukan untuk pertarungan, melainkan sembah hormat, lambang kesiapan menjaga maruah keluarga dan kampung.
Irama gendang silat Melayu biasanya tegas tapi beradab, tidak tergesa-gesa. Setiap pukulan mengikuti gerak pesilat :
- Bila langkah rendah, gendang merendah.
- Bila langkah naik, gendang meninggi.
- Bila silat berhenti, gendang pun akan diam.
Inilah kehalusan budaya Melayu, bunyi, gerak, dan niat menyatu.

Dalam acara adat Melayu, gendang silat berfungsi sebagai pembuka dan penutup adat. Sebelum silat dimainkan, gendang dipukul perlahan sebagai tanda meminta izin kepada adat, kepada orang tua, dan kepada alam. Setelah selesai, gendang ditutup dengan irama penenang, menandakan bahwa adat telah ditunaikan dengan sempurna.

Bagi orang Melayu, gendang silat bukan hiburan kosong. Ia adalah warisan, pengikat nilai, dan saksi sejarah. Selama gendang masih dipukul dengan adab, selama silat masih ditarikan dengan budi, maka selama itu pula jati diri Melayu tetap berdiri.
Reporter : Syahrizal
Editor : Riyadh Hasan Mahrez
Redaksi: tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa.
