Deny Jebat Ingatkan Bupati Natuna Jaga Marwah Tanjak dan Hormati Insan Pers
Deny Minta Klarifikasi atas Ucapan yang Disebut Ditujukan kepada Wartawan Koran Perbatasan
NATUNA, TarnabakuNews.com — Ketua Umum Komunitas Budaya Melayu (KODAM) sekaligus Ketua Forum Tanjak Warisan (FTW) Kepulauan Riau, Deny Jebat, mengingatkan pentingnya menjaga adab, tutur kata, serta penghormatan terhadap profesi wartawan. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya pemberitaan mengenai ucapan yang disebut ditujukan kepada wartawan Koran Perbatasan saat meliput kegiatan di Rumah Makan Ajo Basamo, Jumat (23/10/2026).
Dalam keterangan yang beredar, ucapan yang dikaitkan dengan Bupati Natuna, Cen Sui Lan, tersebut berbunyi, “Kamu dari mana? Koran Perbatasan? Tidak masuk!!”

Menanggapi persoalan itu, Deny menilai bahwa persoalan komunikasi antara pejabat publik dan insan pers perlu disikapi secara bijaksana. Menurutnya, penghormatan terhadap wartawan merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan yang sehat antara pemerintah dan media.
Ia juga mengingatkan bahwa tanjak Melayu bukan sekadar perlengkapan busana adat, melainkan simbol kehormatan, amanah, kewibawaan, dan tanggung jawab moral yang semestinya tercermin dalam perilaku pemakainya.
“Simpul tanjak melambangkan ikatan dan kesetiaan, yang seharusnya tercermin dalam sikap pemimpin yang mempersatukan. Bagian yang menjulang menggambarkan kewibawaan, tetapi kewibawaan itu harus disertai kerendahan hati,” ujar Deny.
Ia turut mengingatkan ungkapan “tanjak tak berempunya” sebagai refleksi bahwa simbol budaya semestinya berjalan selaras dengan nilai-nilai adat dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Menghargai Perjalanan Insan Pers
Deny juga menyoroti kiprah Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran, yang disebut telah lama berkecimpung dalam dunia pers di Natuna, termasuk melalui pengelolaan Surat Kabar Umum Tantangan.
Menurut Deny, perjalanan seorang wartawan dan kontribusinya dalam membangun kehidupan pers patut dihargai. Ia menilai komunikasi antara pejabat publik dan wartawan sebaiknya tetap mengedepankan penghormatan, sekalipun terdapat perbedaan pandangan atau persoalan dalam peliputan.
“Lidah laksana pisau belati, salah cakap melukai hati. Tanjak di kepala tegak berdiri, tanda memimpin dengan hati,” ungkap Deny.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesantunan dalam bertutur kata agar perbedaan pendapat tidak berkembang menjadi persoalan yang dapat merusak hubungan antarpihak.
Kesantunan dan Tanggung Jawab Pemimpin
Selain mengangkat nilai-nilai budaya Melayu, Deny mengaitkan pentingnya menjaga ucapan dengan ajaran agama. Ia merujuk Surah Al-Ahzab ayat 70 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.
Menurutnya, sikap seorang pemimpin tidak hanya tercermin dari kewenangan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya berkomunikasi secara santun, terbuka terhadap kritik, serta bersedia memberikan penjelasan apabila muncul persoalan di tengah masyarakat.
Atas dasar itu, Deny meminta Bupati Natuna memberikan klarifikasi terbuka mengenai konteks dan maksud ucapan yang menjadi sorotan tersebut. Ia berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dengan tetap menjunjung tinggi nilai adat Melayu dan penghormatan terhadap kebebasan pers.
Redaksi Koran Perbatasan Menunggu Jawaban
Sementara itu, berdasarkan keterangan dalam bahan pemberitaan yang diterima redaksi, pihak Koran Perbatasan telah mengirimkan surat klarifikasi lanjutan kepada Bupati Natuna dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Natuna. Surat tersebut juga ditembuskan kepada organisasi pers dan Dewan Pers Republik Indonesia.
Dalam surat itu, redaksi Koran Perbatasan meminta jawaban tertulis dalam waktu lima hari kerja sejak surat diterima. Menurut keterangan tersebut, hingga berita ini disusun, tanggapan substantif belum diterima.
Redaksi TarnabakuNews.com tetap membuka ruang bagi Bupati Natuna, pihak Koran Perbatasan, maupun pihak terkait lainnya untuk menyampaikan penjelasan atau hak jawab guna melengkapi informasi dan menjaga pemberitaan tetap berimbang.
Deny Jebat berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara proporsional tanpa mengabaikan nilai-nilai adat, etika komunikasi, dan penghormatan terhadap profesi wartawan.
Baginya, menjaga marwah tanjak harus sejalan dengan menjaga adab, menghormati sesama, serta menunjukkan tanggung jawab dalam setiap perkataan dan tindakan.
Reporter: Amenoven
Editor: Dewi Condro
Redaksi: TarnabakuNews.com
*Santai, Santun, Supel, Simpel, Sembodo — Tetap dengan Sorot Mata Berita, Fakta Bukan Rekayasa.
