INDONESIA BELUM MERDEKA?
Catatan Reflektif dari Jerman Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI
JERMAN, TarnabakuNews.com — Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, rasa rindu terhadap kampung halaman tiba-tiba datang. Di tengah dinginnya malam di Jerman, saya bergegas menelepon teman dan saudara di Indonesia.
Tangan saya akhirnya memilih nomor adik angkat yang berada di Indonesia. Awalnya hanya ingin berbincang melepas rindu. Namun, entah bagaimana, percakapan kami kemudian mengarah pada berbagai cerita dan perbandingan kehidupan antara Jerman dan Indonesia.
Adik saya bercerita tentang penghasilannya. Gajinya sekitar Rp5 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, ada potongan BPJS, PPh, dan berbagai kewajiban lainnya sekitar Rp500 ribu.
“Kurang lebih 10 persen,” katanya.
Sama-sama terasa sakit ketika melihat potongan gaji. Namun, kemudian muncul sebuah pertanyaan sederhana yang justru membuat kami terdiam.
“Lari ke mana uang pajak itu?”
Saya kemudian bercerita tentang pengalaman saya tinggal di Jerman. Potongan dari penghasilan di sini juga tidak kecil. Namun, yang menjadi pembeda adalah bagaimana masyarakat melihat manfaat dari uang yang mereka keluarkan.
Dalam sistem sosial Jerman, layanan kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, hingga perlindungan bagi masyarakat lanjut usia menjadi bagian penting dari peran negara.
Bukan berarti Jerman sempurna. Di sini pun ada birokrasi dan layanan yang membutuhkan waktu. Tetapi ada sistem yang membuat masyarakat memiliki harapan dan rasa aman.
Adik saya kemudian melanjutkan ceritanya dari Indonesia.
“Bang, kemarin saya mengantar teman berobat ke rumah sakit menggunakan BPJS. Antre sejak jam empat pagi. Sampai di sana, obat yang dibutuhkan ternyata kosong.”
Saya hanya diam mendengarkan.
“Sekolah memang gratis,” lanjutnya, “tetapi masih ada biaya komite, seragam, kegiatan, study tour, dan berbagai kebutuhan lainnya.”
Belum selesai.
“Jalan depan rumah sudah lama rusak. Sudah dua kali diaspal, tetapi dua bulan kemudian rusak lagi.”
Lalu kami berbicara mengenai masa tua.
Di Indonesia, bagi sebagian masyarakat yang tidak memiliki jaminan pensiun memadai, masa tua masih menjadi kekhawatiran. Ada yang akhirnya membuka usaha kecil dari rumah, berjualan, atau berharap mendapat bantuan dari anak-anaknya.
Kami kemudian tertawa kecil. Bercanda untuk mencairkan suasana.
Adik saya tiba-tiba berkata,
“Bang, bikin biro jasa KTP saja. Katanya ada yang bisa bayar Rp200 ribu supaya cepat. Kalau sehari ada sepuluh orang yang minta jasa, lumayan, Bang… hehehe.”
“Hussss… ngomong apa kamu, Dik,” jawab saya.
Kami tertawa.
Tetapi candaan itu justru membawa pembicaraan kami kembali kepada persoalan yang lebih serius.
“Bang, kita lihat berita korupsi hampir setiap hari. Mulai dari miliaran, puluhan miliar, bahkan triliunan rupiah. Besok muncul berita baru lagi. Kita tidak tahu, uangnya benar-benar kembali kepada negara atau tidak.”
Malam semakin larut.
Setelah percakapan panjang itu berakhir, saya justru tidak bisa memejamkan mata.
Pikiran saya terus berputar pada dua kalimat:
“Pajak kita sama-sama besar?”
“Tetapi rasa aman yang dirasakan rakyat, mengapa bisa terasa seperti langit dan bumi?”
Bukan berarti Jerman sempurna.
Dan bukan berarti Indonesia gagal.
Indonesia memiliki sesuatu yang luar biasa: gotong royong.
Ketika seseorang sakit, tetangga masih datang menjenguk. Ketika seseorang mengalami kesulitan, masih ada tangan-tangan yang membantu.
Namun, mungkin ada satu kata yang menjadi pembeda:
KEPERCAYAAN.
Masyarakat akan lebih mudah menerima kewajiban membayar pajak ketika mereka percaya bahwa uang tersebut dikelola dengan benar dan kembali kepada kepentingan masyarakat.
Kepercayaan itu dibangun melalui pelayanan publik yang baik, penegakan hukum yang adil, transparansi, serta keberanian memberantas korupsi.
Sebab ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, muncul pertanyaan sederhana:
“Untuk apa saya membayar pajak jika saya sendiri tidak merasakan manfaatnya?”
Pertanyaan itu tentu tidak boleh dijawab dengan kemarahan kepada rakyat.
Justru negara harus menjawabnya melalui kinerja.
Kembali ke pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikiran saya:
Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?
Saya masih ingat pelajaran ketika duduk di bangku sekolah dasar.
“Merdeka berarti bebas dari penjajahan.”
Kini usia saya sudah 42 tahun.
Saya kembali bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita sudah bebas dari rasa takut ketika harus pergi ke rumah sakit?
Apakah setiap anak sudah benar-benar bebas dari kekhawatiran tidak mampu mendapatkan pendidikan yang layak?
Apakah setiap orang sudah bebas dari ketakutan menghadapi hari tua?
Apakah masyarakat sudah mudah mendapatkan pekerjaan yang layak?
Apakah hukum benar-benar dapat dirasakan adil oleh seluruh lapisan masyarakat?
Jika masih banyak jawaban yang membuat kita ragu, mungkin perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya memang belum selesai.
Malam itu mata saya sulit terpejam.
Saya membayangkan jika kisah seperti ini diceritakan kepada para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Mungkin mereka akan bertanya:
“Setelah kami mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan, apa yang sudah kalian lakukan untuk mengisinya?”
Apakah kita harus menyerah dan membiarkan berbagai persoalan terus berlangsung?
Tentu tidak.
Sebab jika kita semua memilih diam, maka kubangan persoalan tidak akan pernah mengering.
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera merah putih setiap tanggal 17 Agustus.
Kemerdekaan juga tentang menghadirkan negara yang membuat rakyatnya merasa aman, mendapatkan pelayanan yang layak, memperoleh pendidikan, memiliki pekerjaan yang bermartabat, dan mampu menatap hari tua tanpa rasa takut.
Karena pada akhirnya…
Merdeka yang sesungguhnya adalah ketika rakyat tidak takut lagi kepada negaranya sendiri.
Penulis: Abdul Azis
Editor: Dewi Condro
Redaksi: TarnabakuNews.com
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap Dengan Sorot mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
