
Jombang – tarnabakunews.com
Tidak semua orang kuat karena ingin. Sebagian terpaksa kuat… karena hidup tidak memberi pilihan. Reni Setyaningsih adalah salah satunya.
Tubuhnya kecil, suaranya lembut, langkahnya sederhana. Tapi di balik itu, ada beban hidup yang mungkin tak semua orang sanggup memikulnya.

Pagi hari, ia berdiri di depan kelas di Sekolah SMP Unggulan Ar- Rahmah Nglawan, Senden, Peterongan Jombang. Mengajar dengan senyum yang tak selalu mencerminkan apa yang ia rasakan. Di hadapan murid-muridnya, ia terlihat tegar, seolah hidupnya baik-baik saja.
Padahal, tidak.
Ketika matahari tenggelam dan malam mulai dingin, Reni kembali berjuang. Di pinggir jalan raya Senden – Peterongan, ia bersama suaminya menyalakan api, mengaduk nasi di atas wajan panas. Asap mengepul, peluh jatuh, dan lelah menumpuk namun ia tetap berdiri.
Karena hidup harus terus berjalan.
Cobaan dalam hidupnya datang silih berganti, tanpa jeda.
Sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu, Reni tak hanya kehilangan tempat bersandar. Ia juga harus menggantikan peran itu. Ia merawat ayahnya yang kini terbaring lemah akibat stroke. Setiap hari, ia menjadi anak, sekaligus perawat… tanpa pernah benar-benar punya waktu untuk dirinya sendiri.
Belum selesai di situ.
Beberapa tahun lalu, suaminya jatuh sakit. Kondisinya sempat begitu mengkhawatirkan hingga harus dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Di masa itu, Reni seperti berdiri di persimpangan antara harapan dan ketakutan. Ia tetap mengajar, tetap berjualan, sambil diam-diam berdoa agar orang yang ia cintai bisa bertahan.

Hari ini, ujian itu kembali datang. Mertuanya kini juga sedang sakit.
Seolah hidup belum selesai mengujinya.
Pernah… ada satu titik di mana Reni hampir menyerah. Ia ingin berhenti menjadi guru. Ia ingin hidup yang lebih ringan, pekerjaan yang mungkin lebih pasti.
Namun setiap kali itu terlintas, ia teringat satu suara, suara yang kini hanya bisa ia dengar dalam ingatan.
Pesan dari almarhum ibunya.
“Apa pun yang terjadi, tetaplah mengabdi di dunia pendidikan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Reni, itu adalah alasan untuk tetap berdiri, saat hidup berusaha menjatuhkannya.
Yang lebih menyentuh, di tengah semua kekurangan yang ia rasakan… Reni tidak pernah mengeluh soal bantuan yang tidak ia dapatkan. Ia justru berkata,
“Tidak apa-apa saya tidak dapat… yang penting yang benar-benar membutuhkan bisa menerima.”
Di dunia yang sering kali penuh tuntutan dan keluhan, Reni memilih diam. Memilih ikhlas.
Ia tidak hidup dengan banyak kata.
Ia hidup dengan keteguhan.
Ia menangis… mungkin.
Tapi ia tidak berhenti.
Dari Reni, kita belajar bahwa hidup tidak selalu adil. Bahwa cobaan bisa datang tanpa jeda. Namun juga kita belajar, bahwa ketangguhan bukan tentang seberapa kuat seseorang terlihat, tapi seberapa lama ia bertahan meski berkali-kali ingin menyerah.
Kita belajar tentang keikhlasan… ketika memberi tanpa berharap kembali.
Kita belajar tentang kesabaran… ketika luka tak kunjung selesai, tapi langkah tetap diteruskan.
Reni Setyaningsih mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia.
Tapi bagi mereka yang mengerti arti sebuah perjuangan,
ia adalah perempuan luar biasa… yang tetap berdiri, bahkan ketika hidupnya hampir runtuh.
Dan dari kisahnya, satu hal yang sulit dilupakan:
bahwa tidak semua air mata jatuh di pipi…
sebagian jatuh diam-diam di dalam hati.
Reporter : Riyadh Hasan Mahrez
Editor : Dewi Condro.
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
Share the post "(Spesial Hari Kartini) Reni Setyaningsih, Sosok Kartini Masa kini Yang Mengabdi Tanpa Lelah."
