
Jombang – tarnabakunews.com
Di tengah sunyinya malam, sebuah gerobak bakso sederhana justru menjadi pusat keramaian warga di Dusun Sucen, Desa Ngrandulor, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Senin malam (30/3/2026), satu per satu warga berdatangan, mencari kehangatan semangkuk bakso untuk mengganjal perut yang lapar.
Sosok di balik gerobak itu adalah Saikuchudin, yang lebih akrab disapa “Cak Kut”. Pria berusia 54 tahun ini bukan hanya dikenal karena cita rasa baksonya, tetapi juga karena cara berdagangnya yang unik. Selama lebih dari 20 tahun berjualan, ia tetap bertahan dengan prinsip sederhana: pembeli boleh membeli dengan nominal berapapun.
Di tempat ini, pembeli bebas membeli sesuai kemampuan. Mulai dari Rp3 ribu, Rp4 ribu, hingga lebih, semua tetap dilayani tanpa dibeda-bedakan. Tanpa raut keberatan, Cak Kut tetap menyajikan semangkuk bakso hangat dengan senyum yang tulus.

“Sudah lebih dari 20 tahun jualan, beli berapapun ya nggak apa-apa,” ujarnya.
Sebelumnya, Cak Kut biasa mangkal di depan Pondok Pesantren Jannatur Raichan di Gempol Dampet, Desa Ngrandulor. Namun karena semakin ramai dan kondisi yang tidak memungkinkan, kini ia memilih berjualan di depan rumahnya sendiri dengan gerobak bermotor.
Meski berada di tengah kampung, lapaknya tetap ramai dikunjungi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak datang silih berganti. Bagi warga sekitar, bakso Cak Kut bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kemudahan dan kepedulian.
Menariknya, dari usaha sederhana ini Cak Kut mampu meraih omzet hingga sekitar Rp700 ribu saat ramai, dengan keuntungan bersih kurang lebih Rp200 ribu. Sementara saat kondisi sepi, omzetnya masih berkisar di angka Rp500 ribu per malam.
Selain menjadi penopang ekonomi keluarga, usaha ini juga menjadi solusi bagi warga sekitar, terutama mereka yang ingin tetap menikmati makanan hangat tanpa terbebani soal harga. Waktu berjualan di malam hari juga menjadi daya tarik tersendiri. Bagi warga yang pulang kerja larut atau sekadar mencari santapan ringan, bakso Cak Kut selalu menjadi pilihan yang tersedia.
Apa yang dilakukan Cak Kut menunjukkan bahwa usaha kecil pun bisa memberi dampak besar bagi lingkungan sekitar. Bukan hanya tentang jual beli, tetapi juga tentang bagaimana menjaga rasa kemanusiaan di tengah kehidupan sehari-hari.
Di tengah kehidupan yang serba menghitung untung dan rugi, kehadiran bakso Cak Kut menjadi pengingat sederhana bahwa masih ada ruang untuk berbagi, melayani, dan tetap tersenyum apapun kondisi pembelinya.
Reporter : Riyadh Hasan Mahrez
Editor : Dewi Condro
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
