
Jombang – tarnabakunews.com Penampilan seorang penyanyi muda asal Jombang berinisial M menjadi sorotan publik setelah aksinya yang dinilai terlalu heboh atau “hot” saat tampil dalam acara buka puasa bersama komunitas Jombang Singer di sebuah kafe di Kabupaten Jombang.
Peristiwa yang terjadi pada (9/3/2026) itu langsung memantik reaksi dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis muda, pelaku seni, hingga tokoh organisasi kepemudaan di kota yang dikenal sebagai Kota Santri.
Sejumlah pihak menilai aksi panggung tersebut tidak mencerminkan etika kesenian yang santun, terlebih kegiatan berlangsung di bulan suci Ramadan yang seharusnya dijaga kesakralannya.
Salah satu aktivis muda Jombang yang juga dikenal sebagai wartawan sekaligus penggiat seni daerah, Kang (bukan nama sebenarnya), menyampaikan kritik keras terhadap penampilan tersebut. Menurutnya, seorang seniman seharusnya memiliki kepekaan terhadap waktu, tempat, dan kondisi sosial masyarakat.
“Seharusnya goyangan itu dilakukan secara sopan dan anggun. Apalagi ini terjadi di bulan suci Ramadan, bukan bulan biasa. Seniman harus tahu momen dan mampu menjaga etika panggung,” tegasnya kepada awak media.
Ia juga menyoroti bahwa penyanyi berinisial M disebut-sebut masih berstatus pelajar di salah satu SMA di wilayah Kecamatan Tembelang, Jombang. Hal tersebut dinilai berpotensi memunculkan persepsi negatif terhadap lingkungan pendidikan maupun keluarga yang bersangkutan.
“Kejadian ini cukup mengejutkan bagi dunia seniman dangdut di Jombang. Apalagi yang bersangkutan masih pelajar. Seharusnya bisa berpikir secara logis dan menjaga nama baik keluarga, sekolah, maupun organisasi yang diikutinya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kang juga mempertanyakan sikap organisasi seni di Jombang yang hingga saat ini dinilai belum memberikan tanggapan resmi terkait peristiwa tersebut.
“Sampai saat ini kami belum mendengar pernyataan dari pihak Jombang Entertainment maupun PAMDI Jombang. Harusnya ada sikap, minimal teguran lisan atau tertulis agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” imbuhnya. Menurutnya, langkah pembinaan bahkan sanksi moral penting dilakukan agar dunia hiburan di Jombang tetap menjunjung etika, terutama ketika berada dalam momentum religius seperti Ramadan.
Kritik serupa juga datang dari kalangan organisasi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Seorang mantan pengurus IPPNU tahun 2015 turut menyampaikan pandangannya terkait peristiwa tersebut.
Ia menilai generasi muda, terlebih yang masih berstatus pelajar, harus lebih berhati-hati dalam bersikap di ruang publik agar tidak memicu polemik di tengah masyarakat.
“Sebagai generasi muda, apalagi masih pelajar, seharusnya mampu menjaga perilaku dan sikap di ruang publik. Jombang dikenal sebagai kota santri yang memiliki nilai budaya dan religius yang kuat. Jadi setiap tindakan harus mempertimbangkan nilai-nilai itu,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya peran keluarga, lembaga pendidikan, dan organisasi seni dalam memberikan pembinaan kepada generasi muda agar tetap dapat berkarya tanpa meninggalkan etika.
“Berkesenian itu boleh, bahkan bagus. Tapi tetap harus dalam koridor kesopanan dan menghormati situasi, apalagi di bulan Ramadan yang penuh keberkahan,” tambahnya.
Peristiwa tersebut kini ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat Jombang, termasuk di media sosial. Banyak pihak berharap kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pelaku seni, komunitas hiburan, maupun organisasi terkait agar tetap menjaga citra Jombang sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai kesantunan, budaya, dan religiusitas.
Sejumlah aktivis muda juga menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk membatasi kreativitas seni, melainkan sebagai pengingat agar dunia hiburan tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
“Kami tidak anti seni. Justru kami mendukung seni berkembang di Jombang. Tapi seni harus tetap menjaga etika dan marwah daerah yang dikenal sebagai Kota Santri,” pungkasnya.
Kabiro Jombang : Mif
Editor : Riyadh Hasan Mahrez
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa
