Timnas Iran Resmi Mundur dari Piala Dunia 2026 Akibat Perang Makin Sengit.

Jakarta, tarnabakunews.com, 12 Maret 2026.
Timnas Iran secara resmi mengumumkan mundur dari Piala Dunia 2026 setelah situasi perang dengan AS-Israel memanas sejak akhir Februari 2026. Keputusan ini diambil karena prioritas nasional bergeser ke keamanan dan pemulihan infrastruktur, dengan laga Grup G dijadwalkan di AS yang dianggap berisiko tinggi.

Kronologi Pengumuman
Konflik dimulai dengan serangan misil AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026, menewaskan ratusan orang dan memicu masa berkabung nasional 40 hari. Presiden FFIRI Mehdi Taj awalnya mengisyaratkan keraguan partisipasi, diikuti konfirmasi resmi dari Menteri Olahraga Ahmad Donyamali pada 11 Maret 2026. Iran, yang lolos di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, memilih mundur demi keselamatan pemain.

FIFA kini mempertimbangkan opsi pengganti dari Asia seperti UEA atau Irak, dengan potensi sanksi denda hingga Rp9 miliar bagi Iran jika kurang dari 30 hari sebelum kick-off Juni 2026.

Ilustrasi Timnas Iran di kualifikasi Piala Dunia 2026, kini terancam absen akibat konflik berkepanjangan.

Pernyataan Resmi Pihak Terkait
Mehdi Taj, Presiden FFIRI (3 Maret 2026):
Apa yang pasti adalah setelah serangan ini, kami tidak bisa diharapkan untuk menantikan Piala Dunia dengan harapan. Mustahil bagi kami untuk fokus bertanding sementara infrastruktur kami hancur dan bangsa sedang dalam masa berkabung nasional. Bagaimana mungkin tim kami bertanding dengan tenang di tanah negara yang baru saja meluncurkan agresi militer terhadap kami?

Ahmad Donyamali, Menteri Pemuda dan Olahraga Iran (11 Maret 2026):
Tampil di Piala Dunia 2026 sudah tak relevan lagi mengingat perang AS-Israel dengan Iran tak kunjung reda.

Pihak FIFA belum beri respons resmi, tapi memantau situasi geopolitik. Untuk update lebih lanjut, pantau situs FFIRI dan FIFA.

Penulis : mR.Chud.
Editor : Dewi Condro.
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap Dengan Sorot mata Berita Fakta Bukan Rekayasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *