PNIB: Kirab Merah Putih Menjadi Ritual Kebangsaan dalam Rangka November Bulan Pahlawan dan Toleransi, serta Desember Bulan Harmoni Kerukunan Umat Beragama Indonesia
Jombang, 10 November 2025 — Tarnabakunews.com.
Dalam situasi dunia yang semakin dihimpit arus globalisasi dan kapitalisme, budaya serta tradisi menjadi benteng terakhir sebuah bangsa dalam mempertahankan harkat dan martabatnya. Perseteruan antarsesama anak bangsa akibat persaingan di berbagai bidang sering kali membuat kita lupa pada kearifan lokal yang telah diwariskan leluhur.
Pandangan tersebut disampaikan oleh AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, Ketua Umum organisasi kemasyarakatan lintas agama, suku, budaya, dan tradisi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB).
Gus Wal mengaku prihatin terhadap kondisi bangsa yang kian terpuruk di jurang perpecahan karena perbedaan. Menurutnya, bangsa ini sedang terhanyut dalam arus budaya asing, terutama pengaruh paham Wahabi Khilafah Terorisme yang mulai menguasai sendi-sendi sosial, ekonomi, dan politik bangsa.
: Akar budaya, jati diri, dan identitas bangsa ini adalah toleransi dan gotong royong yang diwariskan melalui ajaran agama dan tradisi budaya leluhur. Namun beberapa tahun belakangan ini terlihat anomali pada perilaku generasi muda yang mementingkan ego sektoral. Kepentingan kelompok dibela sampai mati, sementara kepentingan bangsa tidak lagi dianggap sakral,”
ujar Gus Wal dalam wawancara dengan sejumlah awak media.
Gus Wal juga memaparkan fenomena intoleransi dan terorisme yang kian menjamur di tengah masyarakat. Ia menegaskan, kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh paham asing.
” Intoleransi dan Khilafah Terorisme adalah dampak pengaruh luar, terutama dari paham Wahabi yang mengajarkan kebencian dan kekerasan terhadap kelompok lain. Arogansi seperti itu menjadi bahaya laten yang sulit dibasmi ketika masyarakat yang waras justru memilih diam. Kita tahu ajaran itu sesat dan berpotensi memecah belah, namun kita hanya menjadi penonton,”
ungkapnya dengan nada geram.
Sebagai langkah nyata, PNIB di bawah pimpinan Gus Wal terus menggelar Kirab Merah Putih di berbagai kota di Indonesia. Kegiatan ini menjadi simbol konsistensi PNIB dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi, serta cinta budaya nusantara.
” Kirab Merah Putih yang kami gelar merupakan ritual kebangsaan untuk memperkuat nasionalisme, toleransi, dan moderasi beragama, serta merawat tradisi budaya nusantara (NASAB).
Bermodal gotong royong, PNIB mampu membentangkan bendera Merah Putih sepanjang ratusan meter sebagai bentuk pengingat dan ajakan untuk menganyam kembali nilai-nilai kebangsaan.
PNIB tidak eksis dalam kata-kata atau diskusi di media sosial, tetapi lewat aksi nyata yang damai dan beradab di jalanan,” jelas Gus Wal.
Apresiasi masyarakat di berbagai daerah menjadi semangat tersendiri bagi PNIB untuk terus menggelar kegiatan serupa. Setelah sukses di Yogyakarta (16 Oktober 2025), kirab akan berlanjut di Surabaya, dan puncaknya di Jakarta pada 14 Desember 2025.
” Kami juga mendorong pemerintah untuk menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional,
agar seluruh masyarakat senantiasa diingatkan bahwa toleransi adalah benteng terakhir persatuan dan kesatuan bangsa,”
pungkas Gus Wal.
Kabiro Jombang: Mif.
Editor : Dewi Condro.
Redaksi : tarnabakunews.com.
Santai Santun Supel Simpel Sembodo Tetap Dengan Sorot Mata Berita Fakta Bukan Rekayasa.
Share the post "PNIB : Kirap Merah Putih Menjadi Ritual Kebangsaan Dalam Rangka November Bulan Pahlawan dan Toleransi, Serta Desember Bulan Harmoni Kerukunan Umat Dalam beragama"
